Bagiku, Lari Jadi Cara Ampuh Buat Beresin Pikiran yang Kusut


"Terkadang, yang kita butuhkan bukan jawaban atas semua masalah. Kita hanya perlu bergerak, menarik napas, dan memberi ruang bagi pikiran untuk beristirahat."

Kalau ada yang bertanya, "Kenapa sih kamu suka lari?"
Jawabanku mungkin akan berbeda dengan kebanyakan orang.

Aku tidak memulai lari karena ingin menurunkan berat badan.
Bukan juga karena ingin mengejar personal best, mengoleksi medali, atau sekadar mengikuti tren olahraga.

Aku mulai berlari karena ingin menyelamatkan diriku sendiri.


Semuanya Berawal dari Mental yang Lelah

Beberapa tahun lalu, aku sempat mengalami fase di mana pikiranku terasa begitu penuh. Aku adalah tipe orang yang mudah berpikir terlalu jauh tentang banyak hal.

Memikirkan sesuatu yang sebenarnya belum tentu terjadi.
Mengulang-ulang kejadian di masa lalu.
Membayangkan berbagai kemungkinan terburuk di masa depan.

Tanpa sadar, kebiasaan overthinking itu mulai memengaruhi kesehatan fisikku.

Aku didiagnosis mengalami GERD, dan setelah berkonsultasi serta banyak mencari informasi, aku menyadari bahwa salah satu pemicunya adalah stres dan kecemasan yang terus menumpuk.

Saat itu aku baru benar-benar memahami bahwa kesehatan mental dan kesehatan tubuh ternyata saling berkaitan.

Ketika pikiran tidak baik-baik saja, tubuh pun ikut "berteriak".


Belajar Berdamai Lewat Yoga

Langkah pertamaku bukan langsung berlari.

Aku disarankan untuk mengikuti kelas yoga.
Yang kebetulan Guru Yoga-ku punya basic psikolog

Tujuannya sederhana, yaitu belajar mengontrol pikiran.

Selama 1,5 Tahun, di sana aku belajar teknik pernapasan, meditasi sederhana, dan bagaimana menikmati momen tanpa terus-menerus memikirkan hal yang belum tentu terjadi.

Yoga banyak membantuku.

Namun, aku merasa masih membutuhkan aktivitas lain yang bisa kulakukan sendiri, kapan saja, tanpa harus menunggu jadwal kelas.

Aku ingin menemukan olahraga yang sederhana, fleksibel, dan bisa menjadi teman ketika pikiranku mulai kembali ramai.

Dan tanpa disangka, jawabannya adalah... lari.


Semua Berawal dari Jalan Santai

Jangan bayangkan aku langsung mampu berlari berkilometer-kilometer.

Tidak.

Perjalananku dimulai dari sesuatu yang sangat sederhana.
Berjalan kaki mengelilingi kompleks.
Lalu mulai mencoba jogging pelan beberapa menit.

Sering kali harus berhenti karena napas tersengal.
Kadang hanya mampu beberapa kilometer.
Tidak jarang juga memilih pulang lebih cepat karena merasa tubuh belum sanggup.

Tetapi aku terus datang.
Hari demi hari.
Minggu demi minggu.

Sedikit demi sedikit.
Sampai akhirnya aku mulai menikmati setiap langkah.

Hari ini, aku bahkan telah menyelesaikan 2 (dua) Event Half Marathon.

Yang kalau mengingat diriku beberapa tahun lalu, rasanya mustahil bisa nyelesaiin lari hingga jarak 21K.


Lari Menjadi Tempatku Pulang

Banyak orang mengatakan bahwa lari membuat tubuh menjadi lebih sehat.

Aku setuju.

Tetapi bagiku, manfaat terbesar dari lari justru terjadi di dalam kepala.
Lari menjadi tempatku melepaskan stres.

Tempatku mengurai pikiran yang kusut.
Tempatku memberi jeda dari semua kebisingan yang ada di dalam kepala.

Setiap kali mulai berlari, perlahan pikiranku ikut bergerak.

Yang tadinya terasa sesak, menjadi lebih lega.
Yang tadinya terasa rumit, mulai terlihat lebih sederhana.


Saat lari, Aku Belajar Berdamai dengan Pikiranku

Salah satu hal yang paling aku sukai saat berlari adalah...

Aku belajar kembali hadir di saat ini.
Aku belajar fokus pada napas.

Tarik.
Buang.
Tarik.
Buang.

Aku belajar mendengarkan detak jantungku sendiri.
Merasakan setiap langkah kaki menyentuh aspal.
Mendengar suara angin.
Melihat langit.
Menikmati matahari pagi.

Hal-hal sederhana yang dulu sering terlewat karena pikiranku selalu sibuk berkelana ke mana-mana.


Lari Mengajarkanku Banyak Hal

Dari olahraga ini aku belajar bahwa :
Tidak semua masalah harus diselesaikan hari ini.
Tidak semua target harus dicapai secepat mungkin.
Tidak semua rasa takut harus dilawan sekaligus.

Kadang kita hanya perlu mengambil satu langkah.
Lalu satu langkah berikutnya.
Sama seperti menyelesaikan 21 kilometer.

Tidak mungkin kita langsung melompat ke garis finish.
Kita hanya perlu terus bergerak.
Sedikit demi sedikit.

Sampai akhirnya tujuan itu datang dengan sendirinya.


Untuk Kamu yang Sedang Merasa Lelah

Kalau akhir-akhir ini kamu merasa pikiranmu terlalu penuh...

Mungkin kamu tidak harus langsung menjadi pelari.
Tidak perlu langsung mengejar 5K.
Apalagi 10K atau 21K.

Mulailah dari berjalan kaki.

Lima belas menit saja.

Kalau tubuhmu mulai nyaman, cobalah jogging perlahan.

Nikmati prosesnya.

Siapa tahu, seperti yang aku alami, olahraga sederhana ini bukan hanya mengubah kondisi fisikmu, tetapi juga membantu menyembuhkan hal-hal yang tidak terlihat oleh mata.

Hari ini, kalau ada yang bertanya kenapa aku terus berlari, jawabanku tetap sama.

Karena lari bukan lagi sekadar olahraga.

Lari adalah ruang untuk pulang.
Ruang untuk bernapas.
Ruang untuk berdamai dengan pikiranku sendiri.

Dan setiap kali aku berhasil menyelesaikan satu sesi lari, rasanya bukan hanya tubuh yang menjadi lebih kuat.

Tetapi juga hatiku.

Mungkin benar, kita tidak bisa mengendalikan semua hal yang terjadi dalam hidup.
Tetapi kita selalu bisa memilih untuk mengambil satu langkah kecil setiap hari.

Dan bagiku...

Langkah kecil itu dimulai dari sepasang sepatu lari.


💬 Bagaimana dengan Kamu?

Aku ingin mendengar ceritamu.

Apakah kamu pernah menemukan satu aktivitas yang tanpa disadari membantu menyembuhkan kesehatan mentalmu?

Boleh jadi membaca buku, berkebun, mendaki gunung, yoga, atau mungkin... lari.

Yuk, berbagi cerita di kolom komentar. Siapa tahu, pengalamanmu bisa menjadi penyemangat bagi seseorang yang sedang berjuang hari ini.

0 komentar